Corner Notebook
Lokasi: Beranda > Kesehatan > Persela Mulai Hilirisasi Lini Bisnis Usai Lolos Uji Kelayakan Stadion

Persela Mulai Hilirisasi Lini Bisnis Usai Lolos Uji Kelayakan Stadion

Waktu: 2026-07-29 18:58:40Sumber: Corner NotebookKategori: Kesehatan

LAMONGAN, KOMPAS.com – Langkah revolusioner diambil oleh manajemen Persela Lamongan dalam membangun ekosistem sepak bola modern di Kota Soto.

Melalui peluncuran brand apparel mandiri bernama Octagon di Stadion Surajaya pada Minggu (19/7/2026), Laskar Joko Tingkir resmi memulai era baru kemandirian finansial klub melalui strategi hilirisasi bisnis merchandise.

Momentum ini kian krusial mengingat Stadion Surajaya baru saja dinyatakan lolos verifikasi kelayakan untuk menggelar laga kompetisi Pegadaian Championship atau Liga 2 Championship musim ini.

Kehadiran Octagon, yang ditandai dengan peluncuran jersei training kit, diproyeksikan menjadi mesin pencetak uang utama bagi manajemen di tengah kembalinya Persela ke rumah sendiri yang kini berstandar internasional.

Direktur Bisnis Persela, Praditya Adytia, menegaskan bahwa pengelolaan apparel secara mandiri bukan lagi bermitra dengan pihak ketiga merupakan langkah serius klub untuk melepaskan diri dari ketergantungan finansial model lama.

Langkah revolusioner diambil oleh manajemen Persela Lamongan dalam membangun ekosistem sepak bola modern di Kota Soto melalui peluncuran brand apparel mandiri bernama Octagon di Stadion Surajaya pada Minggu (19/7/2026).KOMPAS.com/Eko Nur Syahputro Langkah revolusioner diambil oleh manajemen Persela Lamongan dalam membangun ekosistem sepak bola modern di Kota Soto melalui peluncuran brand apparel mandiri bernama Octagon di Stadion Surajaya pada Minggu (19/7/2026).

Finansial Persela kini ditargetkan disokong langsung dari perputaran ekonomi suporter.

"Kami sangat serius untuk menjadikan bisnis apparel ini sebagai lini bisnis yang berkontribusi nyata bagi finance Persela. Keuntungan dari Octagon akan mengalir langsung untuk kebutuhan operasional tim dan pengembangan ekosistem sepak bola Lamongan," tutur Praditya di Stadion Surajaya, Minggu (19/7/2026).

Demi menjamin produk lokal ini mampu bersaing di pasar nasional, manajemen Persela menunjuk Fajar Yerusalem, desainer spesialis apparel olahraga kenamaan di Indonesia.

Sentuhan kreatif Fajar diharapkan dapat memadukan estetika modern industri olahraga global dengan nilai-nilai historis kebanggaan masyarakat Lamongan.

Langkah ini dirasa logis mengingat pasar potensial yang dimiliki Persela sangat masif.

Untuk musim ini saja, manajemen menaruh target yang cukup optimistis, yakni angka penjualan di kisaran 35.000 hingga 45.000 produk di pasar suporter.

Kendati demikian, manajemen menyadari tantangan terbesar dalam bisnis retail olahraga terletak pada rantai pasok.

Praditya mengakui bahwa pada musim-musim sebelumnya, sistem pendistribusian produk resmi klub dinilai belum maksimal dan kerap menyulitkan suporter di luar daerah untuk mengakses produk asli.

"Kami mengevaluasi kekurangan yang lalu. Pembelian produk Octagon kini bisa diakses lewat official store maupun online. Namun yang paling penting, saat ini kami tengah membentuk saluran distribusi (distribution channel) baru yang lebih terintegrasi," kata Praditya.

Langkah investasi pada sektor retail dan kanal distribusi ini dinilai sebagai bentuk hilirisasi industri sepak bola yang tepat guna.

Dengan menguasai rantai bisnis dari hulu (desain dan produksi) hingga ke hilir (distribusi dan toko resmi), margin keuntungan yang didapat klub akan jauh lebih optimal.

Strategi korporasi klub ini pun mendapatkan dukungan penuh dari barisan suporter setia, LA Mania.

Frans, perwakilan suporter Persela, menyatakan bahwa para pencinta klub sudah berkomitmen untuk memborong jersei resmi Octagon demi memastikan kontribusi finansial mereka mengalir langsung ke kas klub, bukan ke pembajak produk ilegal.